Kisah Nabi Ibrahim AS Mencari Tuhan yang Sebenarnya

Doa Nabi Ibrahim Memohon Keberkahan Amal Ibadah, Rumah dan Keturunan

Nabi Ibrahim AS merupakan nabi keenam dan memiliki gelar Khalilullah atau kesayangan Allah swt. Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu nabi dan rasul ulul azmi. Nama Nabi Ibrahim AS yang dijelaskan dalam Taurat, bahwa nama Ibrahim dikenal sebagai Abram yang berarti ayah yang luhur. Sebagian lain berpendapat bahwa nama Ibrahim berasal dari ab, rab, dan ham yang berarti ayah, banyak dan sebagian besar. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa nama Ibrahim berarti “ayah bagi sebagian besar manusia” atau menjadi “pemimpin bagi sebagian besar manusia di dunia”.

Nabi Ibrahim AS merupakan seorang anak dari tokoh pemahat patung terkenal pada masa kerajaan Namrudz. Nabi Ibrahim AS berasal dari kota Babilonia, kemudian tumbuh menjadi remaja dan berhijrah ke daeah Haran dekat Bait al-Maqdits, dan tak lama setelah itu menetap di Bair- al-Maqdits. Ayah Nabi Ibrahim meninggal dunia pada usia 250 tahun. Setelah beranjak dewasa, Nabi Ibrahim AS merasa kehilangan sosok yang sebelumnya memberi dia makan dan perlindungan. Kemudian dia mendapati banyak orang yang menjadi penyembah berhala. Nabi Ibrahim tidak mempercayai bahwa patung berhala adalah dewa, kemudian dia berniat untuk mencari Tuhan yang sesungguhnya. Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 76-79.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ۝ فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ۝  فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ۝ اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ۝

Artinya : Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”. Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”. Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS. Al-An’am : 76-79)

Hal tersebut merupakan daya logika yang Allah swt karuniakan kepada Nabi Ibrahim AS. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim AS menolak agama yang menyembah patung dan langit yang dipercayai oleh kaumnya. Karena Nabi Ibrahim AS percaya bahwa yang mengendalikan malam dan siang, serta yang menciptakan seluruh makhluk di bumi ini merupakan Tuhan yang sebenarnya. Setelah mencari-cari Tuhan yang sebenarnya, kemudian Nabi Ibrahim AS mempercayai bahwa yang menciptakan seluruh alam ini adalah Allah swt. Ketika berada di Bait al-Maqdis, Nabi Ibrahim AS berdakwah kepada kaumnya supaya menyembah Allah swt, yang mana pada saat itu kaumnya masih menyembah berhala dengan bermacam-macam patung. Tetapi, para kaumnya tidak percaya dan membangkang perintah Nabi Ibrahim AS dan terus menyembah patung-patung tersebut. Nabi Ibrahim dengan tegas menganggap bahwa perilaku mereka itu sesat, tidak masuk akal, dan tidak dibenarkan serta tidak sejalan dengan tauhid aqidah yang didakwahkan kepada mereka. Suatu pernyataan dan sikap yang tegas dari Ibrahim kepada kaumnya ini dipandang sebagai bentuk keberanian dalam berdakwah yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *